Paper pertama kalinya saat ikut conference dengan judul Developing Agile ICT Project Model using Input-Process-Output Logic tahun 2019 di Bandung, ICONISTECH yang pertama.

Lama nih terbitnya, saat presentasi di salah satu ruangan sih tidak terlalu tegang juga, walau pakai bahasa inggris karena toh yang di sampaikan juga tidak begitu banyak dan cukup persiapannya. Tujuannya waktu itu mengenalkan model penelitian saja agar di tunjukkan dan diterbitkan. Termasuk salah satu latihan dari proses pembelajaran di mulai dari conference seperti ini.

Kalau lihat dari kaca mata sekarang sih, ini paper masih jauh dari sempurna, tapi waktu modal nekat banget yang penting tampil dulu.

Berikut link papernya.

https://eudl.eu/doi/10.4108/eai.11-7-2019.2297414

Di adopsi dari sitenya Dr Andrew Broad dan site dosen Perbanas

Ada 3 alasan kenapa PhD candidate perlu uji agar penguji melihat

  • whether it is your own work;
  • whether you understand what you did;
  • whether it is worth a PhD (i.e. is a contribution to knowledge).

Beberapa hal yang menjadi poin seorang penguji adalah

  • Understanding: that you’re ready to become an independent researcher.
  • Relationship to other work: that you have a command of your subject-area. Similarity to the work of others doesn’t detract from novelty!
  • Novelty – is your work publishable? If you have already published a couple of papers, that should be proof of sufficient originality. Don’t panic about recent publications that are very similar to your work – the important thing is to be aware of them, and to know the differences between your work and theirs.
  • What you have achieved, and that you are aware of its implications. What will it make a difference to?
  • Demonstration of hypothesis (what you set out to achieve). How have you evaluated/tested your hypothesis? Always be prepared to reconsider your hypothesis if you end up demonstrating something else – it’s vitally important that your results match your hypothesis, and that you have a convincing argument for this.
  • Why did you do it the way you did? Not just your practical work, but everything. For example, your literature review should be focused towards your hypothesis.

Alhamdulillah atas izin Allah semata, progress tesis udah ada dengan menyebar kuesioner pre test sembari memperbaiki bab 1-3 yang belum kelar bener. Terutama bab 2 terkait dengan teori nih.

InSyaa Allah, Allah beri kemudahan untuk bisa menyelesaikan hingga awal Juli dan bisa segera submit untuk proposal defense segera. Semoga dalam tahun ini bisa dapatkan jadwal proposal defense.

Bagi Pelaku Manajemen Proyek IT, mohon bantuannya untuk bisa isi kuesioner di link berikut
Tautan Kuesioner Online:
https://s.id/BW-ProyekTIK

Ikutin kata pembimbing ajalah dengan modal nekat, tapi kok rasanya gak bisa-bisa ya, wkwkwkw ampun deh. Pak A’ang bilang segera update status jangan student terus jadi candidate segera! Semoga Allah perkenankan untuk bisa selesai tahun 2022, agar bisa melanjutkan lagi belajar ilmu lainnya.

Nikmati proses nya, selama jadi mahasiswa abadi

Untuk anaku segera jadi mahasiswa abadi

Akhirnya bisa ngeblog lagi setelah beberapa lama ada kendala teknis nih.

Setiap kali mo nulis blog, pesannya publishing failed. you are probably offline. wordpress
Googling sebentar,
How to Fix WordPress Updating Failed / Publishing Failed Error sudah bisa membantu menyelesaikan sebagian besar masalah untuk menulis kembali.

Tools ini penting juga, menu Settings > Site Health

Gegara udah bisa ngeblog jadi banyak nih tulisannya hari ini, ada 3 tulisan sekaligus. udah kebanyakan kuatir kehabisan bahan untuk besok-besok lagi 😀

Ibu Mencintaiku dengan Doa Sederhana

Oleh: Sunaryo Adhiatmoko

Saya tidak bisa melupakan, saat ibu menyodorkan satu mangkok menu makan siang. Wajah ibu sendu kala itu. Matanya berkaca-kaca, karena manatap wajah saya yang ketakutan. Kini saya paham, betapa perasaannya ketika itu hancur.

Sejak pagi ibu pergi ke hutan mencari bahan makanan. Di desa, saat itu sedang paceklik. Hampir sebagian warga desa kekurangan makanan, tapi tak sesulit keluarga saya. Setengah hari di hutan, ibu dan bapak hanya mendapati talas hutan. Selain isinya, daun juga dibawa pulang.

Biasanya, talas hutan pilihan terakhir yang bisa dibawa, jika tak mendapati ubi atau singkong. Sesampai di rumah, ibu tergopoh memasak talas itu ala kadarnya. Dikasih bumbu garam dan cabe, direbus lengkap dengan daunnya. Hasilnya agak kental. Setelah matang, ibu dengan iba merayu saya untuk makan.

“Ini ibu bikin liwet”, rayuan ibu yang selalu mengiang hingga kini. Meski ibu telah almarhum. Nasi liwet mestinya dari bahan beras, tapi ini rebusan talas hutan. Jika pernah berpetualang, bisa kita dapati getah daun talas ini gatal jika kena kulit.
Biasanya, perlu waktu lama bagi ibu untuk membujuk agar saya mau makan. Ia tak pernah marah. Bahkan disuapinnya, meski umur saya sudah 10 tahun saat itu. Kelembutannya itu, yang kemudian meluluhkan saya untuk makan.

Saat semangkok rebusan talas hutan itu di depan mata, tangan saya agak gemetar memegang sendok. Kadang sampai keluar keringat dingin. Ibu selalu sabar duduk di samping menemani, sembari mengelus kepala dan punggung saya. Sesekali saya lirik wajahnya, air matanya menetes.

“Ayo Bissmillah dimakan. Sambil berdoa mau minta apa sama Allah”, hibur ibu.

Perlahan sesendok bubur talas hutan masuk ke mulut. Mulanya rasanya baik-baik saja. Setelah beberapa sendok, baru mulai terasa gatalnya. Makin lama, gatal itu menjalar ke tenggorokan. Air putih tak bisa menghilangkannya. Lebih dua jam akan terus menjadi gatalnya, sampai terasa perih.

Jika tak tertahan, saya merengek ke ibu. Ia akan memeluk sembari terisak. Lirih ia bacakan doa-doa. Salah satu doa yang sering diucapkan, “Duh Gusti Allah, tolonglah, jangan ada anak keturunan anakku ini makan apa yang dimakannya hari ini”.
Ibu juga menawari saya untuk minta keinginan pada saat-saat seperti itu. Sesuatu yang sepertinya muskil, untuk meminta jika melihat kondisi kala itu. Bahkan, tetangga kerap meledek jika saya punya cita-cita, bak pungguk merindu bulan. Tapi, ibu paham, bahwa inilah saat doa tak ada lagi hijab untuk dikabulkan Allah SWT.

“Bu, saya ingin keliling dunia biar gak makan talas gatal lagi. Saya ingin suatu hari bikin rumah buat ibu, bikin sekolah untuk orang-orang miskin seperti kita. Biar semua bisa sekolah”, bisik saya ke Ibu. Ia pun akan erat memeluk dan mengusap kain jarik yang dikenakannya ke muka saya.

Suatu hari saya tercenung di atas batu indah di Cape Point, Afrika Selatan. Dataran terakhir menuju kutub selatan. Alamnya indah, menghadap samudera lepas yang biru menghitam. Melengkapi catatan perjalanan kemanusiaan saya, di Asia dan Timur Tengah. Tapi, ibu dan bapak tak sempat melihat doa anaknya menembus langit. Cucunya kini bisa minum susu dan makan roti.

Satu mushola untuk santri tahfidz, saya bangun buat alamarhum ibu dan bapak. Juga sekolah untuk kaum dhuafa yang saya kelola dengan istri, semoga pahalanya mengalir pada keduanya. Ajaib, kekuatan doa telah membuat sesuatu yang tak masuk akal menjadi nyata. Begitu mudah.
Selamat hari Ibu.
Sumber: WA Group – Riya

Alhamdulillah anak pertama sudah 1,5 tahun berguru di pesantren Al Andalus, Sukamakmur, Jonggol

http://pesantren-alandalus.com
Peta Al Andalus

Ini cafe nya menyelamatkan lidah Indonesia dan kehalalan di daerah Dili, kebetulan sekali samping hotel (The Plaza Hotel)

 

Silahkan mampir, citarasa Jawa Timur.

Read the rest of this entry »