Ibu Mencintaiku dengan Doa Sederhana

Oleh: Sunaryo Adhiatmoko

Saya tidak bisa melupakan, saat ibu menyodorkan satu mangkok menu makan siang. Wajah ibu sendu kala itu. Matanya berkaca-kaca, karena manatap wajah saya yang ketakutan. Kini saya paham, betapa perasaannya ketika itu hancur.

Sejak pagi ibu pergi ke hutan mencari bahan makanan. Di desa, saat itu sedang paceklik. Hampir sebagian warga desa kekurangan makanan, tapi tak sesulit keluarga saya. Setengah hari di hutan, ibu dan bapak hanya mendapati talas hutan. Selain isinya, daun juga dibawa pulang.

Biasanya, talas hutan pilihan terakhir yang bisa dibawa, jika tak mendapati ubi atau singkong. Sesampai di rumah, ibu tergopoh memasak talas itu ala kadarnya. Dikasih bumbu garam dan cabe, direbus lengkap dengan daunnya. Hasilnya agak kental. Setelah matang, ibu dengan iba merayu saya untuk makan.

“Ini ibu bikin liwet”, rayuan ibu yang selalu mengiang hingga kini. Meski ibu telah almarhum. Nasi liwet mestinya dari bahan beras, tapi ini rebusan talas hutan. Jika pernah berpetualang, bisa kita dapati getah daun talas ini gatal jika kena kulit.
Biasanya, perlu waktu lama bagi ibu untuk membujuk agar saya mau makan. Ia tak pernah marah. Bahkan disuapinnya, meski umur saya sudah 10 tahun saat itu. Kelembutannya itu, yang kemudian meluluhkan saya untuk makan.

Saat semangkok rebusan talas hutan itu di depan mata, tangan saya agak gemetar memegang sendok. Kadang sampai keluar keringat dingin. Ibu selalu sabar duduk di samping menemani, sembari mengelus kepala dan punggung saya. Sesekali saya lirik wajahnya, air matanya menetes.

“Ayo Bissmillah dimakan. Sambil berdoa mau minta apa sama Allah”, hibur ibu.

Perlahan sesendok bubur talas hutan masuk ke mulut. Mulanya rasanya baik-baik saja. Setelah beberapa sendok, baru mulai terasa gatalnya. Makin lama, gatal itu menjalar ke tenggorokan. Air putih tak bisa menghilangkannya. Lebih dua jam akan terus menjadi gatalnya, sampai terasa perih.

Jika tak tertahan, saya merengek ke ibu. Ia akan memeluk sembari terisak. Lirih ia bacakan doa-doa. Salah satu doa yang sering diucapkan, “Duh Gusti Allah, tolonglah, jangan ada anak keturunan anakku ini makan apa yang dimakannya hari ini”.
Ibu juga menawari saya untuk minta keinginan pada saat-saat seperti itu. Sesuatu yang sepertinya muskil, untuk meminta jika melihat kondisi kala itu. Bahkan, tetangga kerap meledek jika saya punya cita-cita, bak pungguk merindu bulan. Tapi, ibu paham, bahwa inilah saat doa tak ada lagi hijab untuk dikabulkan Allah SWT.

“Bu, saya ingin keliling dunia biar gak makan talas gatal lagi. Saya ingin suatu hari bikin rumah buat ibu, bikin sekolah untuk orang-orang miskin seperti kita. Biar semua bisa sekolah”, bisik saya ke Ibu. Ia pun akan erat memeluk dan mengusap kain jarik yang dikenakannya ke muka saya.

Suatu hari saya tercenung di atas batu indah di Cape Point, Afrika Selatan. Dataran terakhir menuju kutub selatan. Alamnya indah, menghadap samudera lepas yang biru menghitam. Melengkapi catatan perjalanan kemanusiaan saya, di Asia dan Timur Tengah. Tapi, ibu dan bapak tak sempat melihat doa anaknya menembus langit. Cucunya kini bisa minum susu dan makan roti.

Satu mushola untuk santri tahfidz, saya bangun buat alamarhum ibu dan bapak. Juga sekolah untuk kaum dhuafa yang saya kelola dengan istri, semoga pahalanya mengalir pada keduanya. Ajaib, kekuatan doa telah membuat sesuatu yang tak masuk akal menjadi nyata. Begitu mudah.
Selamat hari Ibu.
Sumber: WA Group – Riya

Alhamdulillah anak pertama sudah 1,5 tahun berguru di pesantren Al Andalus, Sukamakmur, Jonggol

http://pesantren-alandalus.com
Peta Al Andalus

Ini cafe nya menyelamatkan lidah Indonesia dan kehalalan di daerah Dili, kebetulan sekali samping hotel (The Plaza Hotel)

 

Silahkan mampir, citarasa Jawa Timur.

Read the rest of this entry »

Alhamdulillah sebelumnya masih di kasih kesempatan untuk berbagi ilmu sembari jalan ke ujung timor sana, yang ngak kebayang sebelumnya seperti apa.

Kesempatan ini datang di awal berpuasa, baru sehari berpuasa dan mengikuti dua kali terawih di masjid bareng sikecil yang selalu ngikut kalau di ajak ke masjid.

Penerbangan pagi dengan Sriwijaya, pada awalnya mengira butuh waktu 2 jam sebelumnya karena penerbangan internasional, ternyata tidak demikian. Penerbangan pagi jam 6 ini sebenarnya butuh transit dulu ke Bali, jadi penerbangan awal belum perlu ke imigrasi, jadi hanya penerbangan domestik saja. Selanjutnya di Ngurah Rai baru berhubungan dengan imigrasi untuk paspor dan mengisi form untuk keperluan imigrasi di Dili nanti.

Sesampainya di bandara Presidente Nicolau Lobato, Visa On Arrival di beli seharga $30 untuk turis dan keperluan bisnis, ini kebetulan dengan paspor Indonesia ya, kalau dari negara lain sepertinya ada yang mengurus visa dulu sebelum kedatangan ke Dili.

Read the rest of this entry »

Ini buat ngingetin diri sendiri sebenarnya, pertama kali kali kenal workspace di Linux dan MacOS, asik banget bisa kerja di banyak desktop yang berbeda, sering bikin bingung sih 😀

Ada dua cara yaitu dengan Shortcut dan Task View icon.

Enak nya pakai shortcut buatnya, antara lain

WinKey + Ctrl + D –> untuk buat Desktop baru

WinKey + Tab atau WinKey + Panah kiri/Panah kanan –> untuk pindah antar Desktop

WinKey + Ctrl + F4 –> untuk menutup current Dekstop

WinKey + Tab, klik kanan Apps, pilih Move –> untuk memindahkan apps ke Desktop lain

 

Mau pakai Task View juga enak, wait … Task View yang mana nih??

Read the rest of this entry »

Cek last posting tahun 2015, kemana aja selama ini ya… sepertinya akan ada banyak cerita meluncur kembali.

Mesti banyak update lagi nih untuk status terakhir. Melemaskan jari-jari untuk mulai berlatih menulis cerita kembali.

Allahu Akbar,

Madinah memang termasuk kota Haram yang dilindungi para malaikat. Kota yang sudah tertata lebih baik dibandingkan Makkah saat ini yang sedang dalam proses pembangunan baik itu di Masjidil Haram maupun untuk lingkungan sekitar nya. Bangunan dibuat sama tingginya di sekitar Masjid Nabawi, dan hotel-hotel mengelilingi Masjid Nabawi sudah sangat dekat. Masjid Nabawi juga mentetramkan bersama suasana kota yang juga mentetramkan, sehingga ibadah jadi lebih khusuk lagi.

Menurut pendapat pribadi, perjalanan umroh sebaiknya di mulai dari Madinah terlebih dahulu, intensitas ibadah dipersiapkan bertahap dari Madinah sebelum ke Makkah. Sangat berbeda kondisi di Makkah dan Madinah, jauh lebih keras suasana di Makkah dibandingkan Madinah yang lebih lembut. Itu dialami pada saat ramadhan ini, 2015.

Read the rest of this entry »