Archive for the Buku Category

Nonton film Negeri 5 Menara bersama keluarga terasa inspiratif dan menggugah perasaaan. Perjuangan Alif dan rekan-rekannya dengan semboyan “man jadda wajada” memberikan suatu gambaran perjuangan yang sungguh-sungguh. Tulisan ini belum bisa menggambarkan keadaan yang sesungguhnya tapi hanya mencoba menuliskan sesuatu yang berarti untuk di kenang di kemudian.

Buku pertama “Negeri 5 Menara” menerangkan perjuangan Alif memasuki pondok pesantren atas permintaan dari Ibundanya dan perjuangan selama di Pondok Madani. Di ekspresikan dan dramatisir dengan baik sekali pada film, walau banyak detil kecil pada buku nya bila di baca akan jauh lebih menarik di bandingkan dengan menonton film.

 

 

 

 

 

Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara yaitu Ranah 3 Warna juga tidak kalah menariknya, merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya yaitu melanjutkan perjuangan setelah lulus dari Pondok Madani.

Pada halaman 132 dari buku tersebut di cuplik tentang pelajaran pertama Alif sewaktu di Pondok Madani yang paling berarti yaitu:
man jadda wajada – siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses
man shabara zhafira – siapa yang bersabar akan beruntung
man sara ala darbi washala – siapa yang berjalan di jalanNya akan sampai ke tujuan

 

 

 

 

menanti film ke 2 dari Ranah 3 warna ini, dan menunggu buku terakhir dari trilogi Negeri 5 Menara

Dari buku “Izinkan Aku Berbagi Harapan” dari Vivi Alatas, doa adalah perwujudan keinginan untuk hijrah mendapatkan Ilmu dan petunjuk, dari gelap menjadi terang.

Ilmu itu lebih baik daripada harta karena ilmu menjagamu sedangkan engkau menjaga harta.
Banyak ilmu menciptakan banyak teman, sedangkan banyak harta menciptakan banyak musuh.
Banyak ilmu yang dibagikan semakin bertambah, sedangkan harta semakin dibelanjakan semakin berkurang.
Pemilik ilmu akan cenderung untuk menjadi dermawan sedangkan pemilik harta bisa punya kecenderungan untuk menjadi kikir.
Ilmu tidak bisa di curi sedankan harta bisa dicuri.
Ilmu tidak bisa lapuk atau usang, sedangkan harta itu makin lama didiamkan makin bertambah usang.
Ilmu tidak ada batasnya sedangkan harta terbatas.
Ilmu itu menerangi hati, sedangkan harta itu bisa membuat hati menjadi keras.
Orang yang berilmu mengaku sebagai hamba Allah, sedangkan pemilik harta dikatakan sebagai pemilik dengan sebab harta.

 

Buku ini menarik sekali, merupakan terjemahan dari website hacker-howto menarik sekali. Menjadi hacker itu tidak berarti merusak, malah membangun untuk memecahkan persoalan, membagi ilmunya kepada semua orang. Seorang hacker itu mempunyai kemampuan lebih, bukan hanya di sisi programmingnya saja, tetapi untuk semua ilmu, selain programming, juga OS, internet, termasuk seni musik, menulis, kemampuan berbahasa inggris, dan juga tentang disiplin untuk terus menerus mengasah keterampilannya.

Hacker bukan cracker, ini sering di salah artikan oleh orang lain, seorang hacker tidak melakukan pembobolan atau merusak suatu situs tertentu. Menjadi seorang hacker itu merupakan pengakuan dari orang lain terhadap kemampuannya.

Menjadi seorang hacker merupakan suatu proses perjalanan yang tidak mudah dan berliku untuk memberikan kontribusinya untuk kemajuan kepada umat manusia.

Menarik sekali membacanya, bisa di dapat di toko buku. Pengarangnya Eric S. Raymond seorang hacker handal, bisa di baca di website di atas untuk membaca langsung. Kalau mau membaca terjemahan bisa beli di toko buku. Recommended banget

Buku ini juga bagus… lagi baca nih.. nanti ya tunggu reviewnya…hehehe…
bersambung……

Masih belum selesai juga nih bacanya, sibuk ngurusin yang lain

Buku Senopati Pamungkas, karangan Arswendo… memang bagus banget…
sudah pernah baca dulu, waktu bukunya masih terpisah-pisah kaya novel. Sekarang dijadikan 2 buku saja. Jilid 1 ada 1115 hal… pegel pegangnya saja

Bantala Parwa
Gendhuk  Tri…Gayatri….
Eyang Sepuh…

Selanjutnya tinggal beli buku ke 2 nih, ehm…ringkasannya nanti aja lagi ya..hehehe…lagi males nulis lagi