Alhamdulillah sebelumnya masih di kasih kesempatan untuk berbagi ilmu sembari jalan ke ujung timor sana, yang ngak kebayang sebelumnya seperti apa.

Kesempatan ini datang di awal berpuasa, baru sehari berpuasa dan mengikuti dua kali terawih di masjid bareng sikecil yang selalu ngikut kalau di ajak ke masjid.

Penerbangan pagi dengan Sriwijaya, pada awalnya mengira butuh waktu 2 jam sebelumnya karena penerbangan internasional, ternyata tidak demikian. Penerbangan pagi jam 6 ini sebenarnya butuh transit dulu ke Bali, jadi penerbangan awal belum perlu ke imigrasi, jadi hanya penerbangan domestik saja. Selanjutnya di Ngurah Rai baru berhubungan dengan imigrasi untuk paspor dan mengisi form untuk keperluan imigrasi di Dili nanti.

Sesampainya di bandara Presidente Nicolau Lobato, Visa On Arrival di beli seharga $30 untuk turis dan keperluan bisnis, ini kebetulan dengan paspor Indonesia ya, kalau dari negara lain sepertinya ada yang mengurus visa dulu sebelum kedatangan ke Dili.

Pemeriksaan hingga buka koper setelah mengambil koper sebelum keluar dari bandara. Koper bahkan mendahului penumpang yang sedang mengantri oleh pemeriksaan paspor.

Signal telekomunikasi sudah putus tuh, belum update roaming. Wifi bandara juga belum ada, tapi bersyukur sudah ada yang menjemput dari kantor peserta training (in house training).

Hotel tempat menginap, lokasi ok banget ternyata, karena bersebelahan dengan rumah makan Starko Cafe yang menyediakan makanan Nusantara terutama dari Jawa Timur. Pas banget nih untuk berbuka puasa atau beli untuk sahur besoknya.

Panaskan dengan microwave di hotel. Alhamdulillah, persiapan bawa kurma dari Depok juga membantu untuk berbuka puasa selama di Dili.

Perlu di ingat ya, di Dili mata uangnya bukan Rupiah tapi US Dollar nih, walau ada makanan nusantara bayarnya Dollar donk. Nasi uduk ayam (komplit dengan telor mata sapi dan sayur asem) hanya $4.5

Di syukuri donk dengan kondisi seperti itu.

Leave a Reply